Jumat, 01 Juni 2012

Contoh Wawancara

CONTOH WAWANCARA
Posted by lembursingkur pada Juli 29, 2009
Pengantar
Di bawah ini disajikan contoh pengajaran topik wawancara. Tulisan ini berisi RPP dan juga contoh tanya jawab wawancara (simulasi wawancara) hasil karya siswa SMP Santa Ursula BSD. (ch. enung martina)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah    : SMP
Mata Pelajaran    : Bahasa Indonesia
Kelas   /Semester    : VIII/1
Standar Kompetensi    :  :  Berbicara2.    Megungkap berbagai informasi melalui    wawancara     dan presentasi laporan
Kompetensi Dasar    :     2.1. Ber¬wa¬wan¬¬cara de¬ngan nara¬sumber dari berbagai   kalangan   dengan  memperhatikan etika ber¬wawancara
Indikator    •    Siswa mampu membuat daftar  pokok-pokok pertanyaan untuk wawancara
•    Siswa melakuan simulasi waancara di depan kelas
•    Siswa mampu melakukan wawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara
Alokasi Waktu    :   4  X  45 menit (2 pertemuan)
1.  Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat mewawancarai seorang narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara
2.   Materi Pembelajaran
Cara berwawancara  dan implementasinya
3.  Metode Pembelajaran
a. simulasi
b.Tanya jawab
c. Demonstrasi
4. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
a.   Kegiatan awal
1.   Siswa diminta berpasang-pasangan dan membuat kesepakatan. Salah satu siswa sebagai seorang narasumber (siswa teladan, ketua OSIS, juara lomba lukis, atau siswa beropini tentang topik tertentu/ sesuai keadaan masing-masing).
2.   Setiap siswa menyiapkan pertanyan-pertanyaan untuk pasangannya masing-masing.
3.   Siswa dibimbing guru menentukan hala-hal yang perlu dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan saat berwawancara.
b.  Kegiatan Inti
Setiap pasangan  siswa melakukan kegiatan simulasi wawancara ke depan kelas.
c.  Kegiatan  Akhir
Siswa dan guru melakukan refleksi
Siswa diajak menemukan nilai-nilai hidup dari kegiatan berwawancara
5.   Sumber Pembelajaran
a.    Buku Teks
b.    Nara sumber
c.    Rekaman Wawancara
6.   Penilaian
a.   Teknik                         : observasi
b.   Bentuk instrumen        : lembar observasi
c.   Soal /Instrumen           :
1.Lakukanlah kegiatan wawancara bersama teman pasangan kalian ke depan kelas!
Rubrik penilaian :
No    Aspek    Deskriptor    Skor    Skor maksimum
1    Bobot pertanyaan    •    Siswa memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sangat berbobot (analisis), variatif, dan jelas
•    Siswa memberikan pertanyan-pertanyaan yang berbobot dan jelas.
•    Siswa memberikan pertanyaan-pertanyaan yang jelas.
•    Siswa memberikan pertanyan-pertanyaan yang ringan, informatif saja, dan kurang bervarisi.    4
3
2
1    4
2    Kesantunan bahasa    •    Siswa bertanya dengan bahasa yang santun
•    Siswa bertanya dengan bahasa yang cukup santun
•    Siswa bertanya dengan bahasa    yang kurang santun    3
2
1    3
3    Kekomunikatifan    •    Siswa bertanya dengan sangat komunikatif
•    Siswa bertanya dengan komunikatif
•    Siswa bertanya dengan cukup komunikatif
•    Siswa bertanya dengan kurang komunikatif    4
3
2
1    4
4    Etika wawancara    •    Dalam berwawancara siswa memperhatikan etika wawancara
•    Dalam berwawancara siswa  kurang memperhatikan etika wawancara
•    Dalam berwawancara siswa  tidak memperhatikan etika wawancara    2
1
0    2
    Jumlah Skor Maksimum            13
Skor maksimal:
No 1)    = 4
No 2)    = 3
No 3)    =  4
No 4)   =   2
Jumlah = 13
Penghitungan nilai akhir dalam skala 0—100 adalah sebagai berikut.
    Perolehan Skor           
Nilai akhir =    ————————    X    Skor Ideal (100)    =   .  .  .
    Skor Maksimum (13)           
Contoh naskah simulasi wawancara
SIMULASI WAWANCARA
Karya:
Catharina Wenirosaline 8D / 5
Vanessa Christiani 8D / 29
Topik                          :           Hiburan.
Narasumber                :           Romy Rafael.
Pewawancara              :           Wartawan dari majalah Magic Indonesia.
W : wartawan (Vanessa)        ,           N : narasumber (Weni).
W :      Selamat pagi Pak, saya wartawan dari majalah Magic Indonesia, boleh saya mewawancarai         Bapak?
N  :      Pagi. Tentu saja boleh, silahkan.
W :      Majalah Magic Indonesia akan memasukkan biografi anda sebagai salah satu magician Indonesia , jadi wawancara ini berkaitan dengan kehidupan  Anda?
N  :      Begitu ya? Baik saya siap.
W :      Terima kasih Pak. Ilmu magic apa yang selama ini ditekuni?
N  :      Selama ini saya menekuni ilmu hipnotis.
W :      Darimana anda dapat mengetahui ilmu ini? Apakah sejak anda mengetahuinya anda langsung tertarik?
N  :      Saat masih kecil, kehidupan saya dengan teman-teman saya yang lain memang sedikit berbeda. Di saat  teman-teman saya yang lain berkumpul untuk bermain, saya menyendiri. Karena kebiasaan itu, saya sering kali menjadi bahan ejekan teman-teman, dan jadilah saya seorang yang tidak percaya diri. Begitu pula saat saya duduk di bangku SMP, sifat saya yg tertutup membuat saya tidak memiliki banyak teman. Beruntung dari keadaan itu, saya memiliki ‘teman-teman baru’ berupa buku, dari buku- buku yang saya baca itulah saya mendapatkan karakter diri saya dan mulai tertarik pada ilmu hipnotis.
W :    Berapa lama anda mendalami ilmu hipnotis ini? Dimana sajakah anda mendalaminya?
N  :      Saya mendalami ilmu hipnotis dan berbagai kegunaannya lebih dari empat tahun di Amerika. Di sana saya pernah belajar di Hypnotism Training Institute, Ultimate Stage Hypnotism Institute dan Institute for Neuro Research and Education.
W :     Sebelum anda benar-benar menekuni ilmu hipnotis ini, bagaimana tanggapan atau reaksi orang tua anda?
N  :    Keputusan saya menekuni dunia ini memang mendapat tentangan dari keluarga saya. Pola pikir kedua orang tua saya masih berdasarkan pada persetujuan umum, kalau bekerja berarti menjadi pegawai.
W :      Sampai saat ini, hal apa saja yang telah dijalani bersangkutan dengan ilmu hipnotis anda?
N  :      Sampai saat ini, saya menggunakan kemampuan hipnotis saya selain untuk hiburan, juga untuk aktivitas klinis (pengobatan psikis), medis (kedokteran),bahkan untuk bisnis dan perusahaan. Saya selalu
berusaha menghilangkan kesan negatif hipnotis lantaran karena kasus penipuan dan kejahatan dengan ilmu ini. Saya telah membuka Klinik Romy Rafael Hypnotheraphy dengan menerima penyembuhan orang yang tengah dalam keadaan stres, depresi, phobia, bahkan menghilangkan kebiasaan buruk. Selain itu, saya juga telah menyusun buku Hypnotheraphy : Quit Smoking!, yang berisi panduan hypnoteraphy dalam bentuk buku dan CD, untuk menghilangkan kecanduan rokok. Sekarang ini, saya menjadi salah satu komentator di acara The Master dan tuan rumah di Master Hipnotis Romy Rafael.
W :      Mengapa anda mendapat sebutan Master Hipnotis?
N  :      Pada tahun 2005 lalu saya berhasil mencatat rekor Museum Rekor Indonesia atau yang dikenal MURI dengan menghipnotis sekitar 5000 orang yang hadir dalam sebuah acara seminar yang berlangsung di Mangga Dua Square, Jakarta pada 11 November 2005.
W :      Menarik sekali perjalanan anda menuju kesuksesan anda sekarang ini, semua dijalani tanpa kenal lelah. Baik Pak, terima kasih atas waktu dan semua informasinya. Sukses
selalu dan selamat siang.
N  :      Sama-sama. Terima Kasih.
http://lembursingkur.wordpress.com/2009/07/29/contoh-wawancara/















PENGERTIAN BERITA
Berita berasal dari bahsa sansekerta "Vrit" yang dalam bahasa Inggris disebut "Write" yang arti sebenarnya adalah "Ada" atau "Terjadi".Ada juga yang menyebut dengan "Vritta" artinya "kejadian" atau "Yang Telah Terjadi".Menurut kamus besar,berita berarti laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat.

Berita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media on-line internet.

News (berita) mengandung kata new yang berarti baru. Secara singkat sebuah berita adalah sesuatu yang baru yang diketengahkan bagi khalayak pembaca atau pendengar. Dengan kata lain, news adalah apa yang surat kabar atau majalah cetak atau apa yang para penyiar beberkan.

Menurut Dean M. Lyle Spencer : Berita adalah suatu kenyataan atau ide yang benar yang dapat menarik perhatian sebagian besar dari pembaca.

Menurut Willard C. Bleyer : Berita adalah sesuatu yang termasa ( baru ) yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar. Karena itu ia dapat menarik atau mempunyai makana bagi pembaca surat kabar, atau karena ika dapat menarik pembaca - pembaca tersebut.

Menurut William S Maulsby : Berita adalah suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi, yang dapat menarik perhatian pembaca surat kabar yang memuat berita tersebut.

Menurut Eric C. Hepwood : Berita adalah laporan pertama dari kejadian yang penting yang dapat menarik perhatian umum

Menurut Dja’far H Assegaf : Berita adalah laporan tentang fakta atau ide yang termasa ( baru ), yang dipilih oleh staff redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca. Entah karena luar biasa, entah karena pentingnya, atau akibatnya, entah pula karena ia mencakup segi – segi human interest seperti humor, emosi dan ketegangan.

Menurut J.B. Wahyudi : Berita adalah laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memilki nilai penting, menarik bagi sebagian khalayak, masih baru dan dipublikasikan melalui media massa periodik.

Menurut Amak Syarifuddin : Berita adalah suatu laporan kejadian yang ditimbulkan sebagai bahan yang menarik perhatian publik media massa.

Dari sekian definisi atau batasan tentang berita itu, pada prinsipnya ada beberapa unsur penting yang harus diperhatikan dari definisi tersebut. Yakni: Laporan kejadian atau peristiwa atau pendapat yang menarik dan penting disajikan secepat mungkin kepada khalayak luas.

Dalam berita juga terdapat jenis-jenis berita yaitu:

1. Straight News: berita langsung, apa adanya, ditulis secara singkat dan lugas. Sebagian besar halaman depan surat kabar berisi berita jenis ini,
jenis berita Straight News dipilih lagi menjadi dua macam :

a.Hard News: yakni berita yang memiliki nilai lebih dari segi aktualitas dan kepentingan atau amat penting segera diketahui pembaca.
Berisi informasi peristiwa khusus (special event) yang terjadi secara tiba-tiba.

b.Soft News, nilai beritanya di bawah Hard News dan lebih merupakan berita pendukung.

2. Depth News: berita mendalam, dikembangkan dengan pendalaman hal-hal yang ada di bawah suatu permukaan.

3. Investigation News: berita yang dikembangkan berdasarkan penelitian atau penyelidikan dari berbagai sumber.

4. Interpretative News: berita yang dikembangkan dengan pendapat atau penelitian penulisnya/reporter.

5. Opinion News: berita mengenai pendapat seseorang, biasanya pendapat para cendekiawan, sarjana, ahli, atau pejabat,
mengenai suatu hal, peristiwa, kondisi poleksosbudhankam, dan sebagainya.

Bagian Berita

Secara umum, berita mempunyai bagian-bagian dalam susunannya yaitu

Headline.
Biasa disebut judul. Sering juga dilengkapi dengan anak judul. Ia berguna untuk: (1) menolong pembaca agar segera mengetahui peristiwa yang akan diberitakan; (2) menonjolkan satu berita dengan dukungan teknik grafika.

Deadline.
Ada yang terdiri atas nama media massa, tempat kejadian dan tanggal kejadian. Ada pula yang terdiri atas nama media massa, tempat kejadian dan tanggal kejadian. Tujuannya adalah untuk menunjukkan tempat kejadian dan inisial media.

Lead.
Lazim disebut teras berita. Biasanya ditulis pada paragraph pertama sebuah berita. Ia merupakan unsur yang paling penting dari sebuah berita, yang menentukan apakah isi berita akan dibaca atau tidak. Ia merupakan sari pati sebuah berita, yang melukiskan seluruh berita secara singkat.

Body.
Atau tubuh berita. Isinya menceritakan peristiwa yang dilaporkan dengan bahasa yang singkat, padat, dan jelas. Dengan demikian body merupakan perkembangan berita.


Contoh berita :
Al Qaeda Rencanakan Serangan Kereta Api di AS
Mei 6, 2011 — tovarockest
NEW YORK – Barack Obama berdoa di bekas lokasi menara kembar World Trade Center (WTC) New York (Ground Zero) pada Kamis (5/5) waktu setempat. WTC di New York dan Pentogon di Washington dihancurkan serangan teroris pimpinan Osama bin Laden pada 11 September 2011.
Acara doa itu dilakukan setelah pasukan khusus AS berhasil menambak mati Osama bin Laden di kediaman mewahnya di Abbottabad, Pakistan, tidak jauh dari ibukota Islamabad, pada Minggu (1/5) lalu. Sementara itu, dokumen yang ditemukan dalam penyergapan itu menunjukkan bahwa jaringan Al Qaeda merencanakan serangan kereta api di sebuah lokasi yang tidak disebutkan secara jelas di AS untuk memperingkatan 10 tahun serangan 11 September.
Para pejabat AS melukiskan rencana serangan itu sebagai sesuatu yang sangat inspiratif tetapi rencana itu sekaligus menunjukkan bahwa Bin Laden tetap mengontrol seluruh gerak Al Qaeda setiap hari.
Dalam acara di Ground Zero itu, Presiden Obama meletakan karangan bunga sebelum berangkulan dengan keluarga korban tewas dalam serangan yang diduga dilakukan atas perintah Osama bin Laden. Jaringan Osama bin Laden menabrakkan dua pesawat ke gedung WTC New York dan Pentagon di Washington.
Perayaan itu dilakukan mengenang dan menghormati 3.000 orang yang tewas akibat serangan teroris 10 tahun silam. Dalam kunjungan pertamanya itu sebagai Presiden, SBY tidak berpidato. Dia hanya berdoa sambil menundukan kepala dan hening sejenak sebelum meletakkan karangan bunga dengan para pejabat Kota New York.
Obama hanya berbicara singkat di kantor pemadam kebakaran yang kehilangan 15 orang anggotanya pada peristiwa itu. Obama memberi pesan kepada musuh-musuhnya di seluruh dunia bahwa “Ketika kita mengatakan kita tidak akan pernah lupa, kita tahu apa maksud perkataan kita itu.”
Obama juga mengunjungi Fort Campgell di Kentucky pada Jumat (6/5) ini untuk bertemu beberapa komando elit yang dikirim ke Pakistan untuk memburu dan akhirnya bisa menembak mati Osama bin Laden.
“Presiden Obama ingin menyampaikan ucapan terima kasih secara langsung kepada beberapa pasukan khusus yang terlibat dalam operasi itu,” kata pejabat AS yang enggan disebut namanya.
Komando yang berhasil menembak mati Osama bin Laden di kediaman mewahnya di Abbottabad pada Minggu (1/5) dilaporkan berasal dari sebuah tim yang dikenal dengan sebutan “Tim Enam” (Team Six), sebuah unit elit dari satuan elit yang sudah ada, Navy Seals.
http://korangua.wordpress.com/




Menulis Paragraf Narasi

Eksposisi - Paragraf Eksposisi merupakan karangan yang bertujuan untuk menginformasikan tentang sesuatu sehingga memperluas pengetahuan pembaca. Karangan eksposisi bersifat ilmiah/nonfiksi. Sumber karangan ini dapat diperoleh dari hasil pengamatan, penelitian atau pengalaman.

Di sinilah perbedaannya dengan karangan deskripsi. Karangan deskripsi bertujuan menggambarkan / melukiskan sesuatu sehingga seolah-olah pembaca mengatakannya sendiri. Karangan deskripsi dapat bersifat ilmiah atau nonilmiah. Sumber karangan diperoleh dari hasil pengamatan, penelitian, dan imajinasi.

Paragraf Eksposisi tidak selalu terbagi atas bagian-bagian yang disebut pembukaan, pengembangan, dan penutup. Hal ini sangat tergantung dari sifat karangan dan tujuan yang hendak dicapai.


Yang Kedua bagi American Airlines

Jatuhnya pesawat berkapasitas 266 penumpang airbus A300- 600 merupakan peristiwa kedua bagi American Airlines beberapa detik lepas landas dari bandar udara internasional O’Hare Chicago, tiba-tiba mesin kiri lepas dari dudukannya. Pilot tidak bisa mengendalikan pesawat akibat keseimbangan pesawat mendadak berubah dengan jatuhnya mesin berbobot sekitar 5 ton. Pesawat mendarat dan menghujam tempat parkir kendaraan 31 detik kemudian dan 271 penumpang plus awak tewas seketika. Kecelakaan lain menyangkut mesin copot dialami oleh pesawat kargo El-Al milik flag carier Israel, 4 Oktober 1992. Mesin nomor empat atau yang paling ujung pada sayap kanan, tiba-tiba lepas akibat dua fuse-pin (baut kedudukan mesin) lepas. Disusul kemudian oleh mesin nomor tiga. Mendadak kehilangan dua mesin, pilot tidak dapat mengendalikan pesawat dan menabrak gedung bertingkat di Amsterdam, Belanda. Empat awak tewas berikut 47 penghuni flat yang ditabrak.


Sumber: Kompas, 15 November 2001

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

II. Beberapa Point Penting Karangan / Paragraf Eksposisi


A. Topik Topik Dalam Karangan Eksposisi

1. data faktual, yaitu suatu kondisi yang benar-benar terjadi, ada, dan dapat bersifat historis tentang bagaimana suatu alat bekerja, bagaimana suatu peristiwa terjadi, dan sebagainya;
2. suatu analisis atau penafsiran objektif terhadap seperangkat fakta; dan
3. fakta tentang seseorang yang berpegang teguh pada suatu pendirian.

B. Contoh Urutan Analisis Paragraf Eksposisi

1. urutan kronologis/proses, biasanya memaparkan proses, yaitu memberi penjelasan tentang bekerjanya sesuatu atau terjadinya suatu peristiwa,
2. urutan fungsional,
3. urutan atau analisis sebab akibat, dan
4. analisis perbandingan.

C. Langkah-langkah Menulis Paragraf Eksposisi

1. menentukan tema,
2. menentukan tujuan karangan,
3. memilih data yang sesuai dengan tema, dan
4. membuat kerangka karangan, mengembangkan kerangka menjadi karangan.

D. Langkah-langkah Menyusun Paragraf Proses

Pola pengembangan karangan eksposisi bisa bermacam-macam, di antaranya pola pengembangan proses. Paragraf proses itu menyangkut jawaban atas pertanyaan bagaimana bekerjanya, bagaimana mengerjakan hal itu (membuat hal ini), bagaimana barang itu disusun, bagaimana hal itu terjadi. Berikut langkah penulisannya :

1. Penulis harus mengetahui perincian secara menyeluruh.
2. Membagi perincian atas tahaptahap kejadiannya. Bila tahaptahap kejadian ini berlangsung dalam waktu yang berlainan, penulis harus memisahkan dan mengurutkannya secara kronologis.



E. Contoh Karangan / Paragraf Eksposisi
Sejak zaman dahulu, nenek moyang kita sudah mengenal tanaman lidah buaya serta manfaatnya. Manfaat lidah buaya tidak hanya sebagai penyubur rambut, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan.

Tumbuhan tanpa buah ini mempunyai ciri: daun berbentuk panjang, tebal, dan berwarna hijau. Daunnya mengandung serat bening sebagai daging. Meskipun lidah buaya sejak dahulu dikenal memiliki banyak khasiat, belum banyak yang mengetahui bahwa tanaman ini bisa menjadi komoditas yang menguntungkan. Menariknya, komoditas ini tidak hanya bermanfaat sebagai ramuan penyubur rambut, tetapi justru sebagai minuman yang menyehatkan.( Contoh karangan paragraf ekposisi 1 )

Walaupun tidak terjadi setiap tahun, peristiwa umbal balik di waduk-waduk sangat merugikan para petani ikan Karamba Jaring Apung (KJA) karena berdampak kematian massal pada ikan..

Peristiwa ini terjadi dengan tiba-tiba tanpa ada kesempatan untuk mengungsikan atau melakukan panen dini.

Pernyataan Prof. Otto Sumarwoto benar belaka bahwa peristiwa umbal balik merupakan gejala alam biasa yang terjadi jika penurunan suhu lapisan air permukaan lebih rendah dari suhu lapisan air di bawahnya. Hal itu mengakibatkan berat jenis air permukaan lebih tinggi apabila dibandingkan dengan lapisan air di bawahnya sehingga terjadi peristiwa umbal balik massa air lapisan atas turun ke bawah berganti tempat dengan massa air lapisan bawah yang pindah ke atas.( Contoh karangan paragraf ekposisi 2 )

Setiap orang menggosok gigi. Ada yang pagi sore setiap mandi ada yang setiap selesai makan. Ini bergantung pada keyakinan masing masing mengenai bagaimana merawat gigi dengan baik. Warne pasta yang digunakan pun bermacam macam, ada yang putih polos, putih bergaris merah atau hijau, atau lainnya. Akan tetapi, apabila diperhatikan, ada yang tidak berubah pada alat perawatan gigi tersebut. Ternyata alat perawatan gigi seperti yang kita kenal selama ini memang sudah diyakini sebagai yang terbaik sampai saat ini, dan tidak perlu diubah. Ini terlihat dari kenyataan bahwa kemasan yang berbentuk tube itu adalah yang paling tepat untuk pasta gigi, lalu rasa dan tekstur pasta di dalam tube itu pun sudah cukup membuat orang senang menyikat gigi, dan semua ini didukung pula oleh cara promosi yang memang meyakinkan. ( Contoh karangan paragraf ekposisi 3 )

Angin adalah gerakan udara dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Gerakan udara ini dikendali kan panas matahari. Udara panas lebih ringan daripada udara dingin. Udara panas naik jika dipanasi matahari, lalu tempatnya digantikan oleh udara dingin. ( Contoh karangan paragraf ekposisi 4 )

     Berisi tentang pendapat, gagasan, atau keyakinan penulis terhadap suatu masalah bidang tertentu
     Uraian bersifat objektif, semata-mata hanya untuk menambah pengetahuan pembaca tanpa didasari maksud tertentu
     Diperjelas dengan fakta yang dilengkapi dengan angka, peta, grafik, statistik, gambar atau bagan sebagai ilustrasi
     Menggali melalui analisis dan sintesis
     Paragraf diakhiri dengan penegasan, bukan ajakan atau permintaan dukungan

Jenis pengembangan paragraf eksposisi :
1.    eksposisi definisi
2.    eksposisi proses
3.    eksposisi klasifikasi
4.    eksposisi ilustrasi (contoh)
5.    eksposisi perbandingan & pertentangan, dan
6.    eksposisi laporan
Mengenali Contoh Paragraf Eksposisi :
Contoh Paragraf Eksposisi 1 (definisi)
Ozone therapy adalah pengobatan suatu penyakit dengan cara memasukkan oksigen ,urni dan ozon berenergi tinggi ke dalam tubuh melalui darah. Ozone therapy merupakan terapi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, baik untuk menyembuhkan penyakit yang kita derita maupun sebagai pencegah penyakit.
Contoh Paragraf Eksposisi 2 3 (klasifikasi)
Pemerintah akan memberikan bantuan pembangunan rumah atau bangunan kepada korban gempa. Bantuan pembangunan rumah atau bangunan tersebut disesuaikan dengan tingkat kerusakannya. Warga yang rumahnya rusak ringan mendapat bantuan sekitar 10 juta. Warga yang rumahnya rusak sedang mendapat bantuan sekitar 20 juta. Warga yang rumahnya rusak berat mendapat bantuan sekitar 30 juta. Calon penerima bantuan tersebut ditentukan oleh aparat desa setempat dengan pengawasan dari pihak LSM.
Contoh Paragraf Eksposisi 3 2 (proses)
Sampai hari ke-8, bantuan untuk para korban gempa Yogyakarta belum merata. Hal ini terlihat di beberapa wilayah Bantul dan Jetis. Misalnya, di Desa Piyungan. Sampai saat ini, warga Desa Piyungan hanya makan singkong. Mereka mengambilnya dari beberapa kebun warga. Jika ada warga yang makan nasi, itu adalah sisa-sisa beras yang mereka kumpulkan di balik reruntuhan bangunan. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa bantuan pemerintah kurang merata.
Contoh Paragraf Eksposisi 4 (ilustrasi)
Pernahkan Anda menghadapi situasi tertentu dengan perasaan takut? Bagaimana cara mengatasinya? Di bawah ini ada lima jurus untuk mengatasi rasa takut tersebut. Pertama, persipakan diri Anda sebaik-baiknya bila menghadapi situasi atau suasana tertentu; kedua, pelajari sebaik-baiknya bila menghadapi situasi tersebut; ketiga, pupuk dan binalah rasa percaya diri; keempat, setelah timbul rasa percaya diri, pertebal keyakinan Anda; kelima, untuk menambah rasa percaya diri, kita harus menambah kecakapan atau keahlian melalui latihan atau belajar sungguh – sungguh.
Contoh Paragraf Eksposisi 5 (perbandingan / pertentangan)
Pascagempa dengan kekuatan 5,9 skala richter, sebagian Yogyakarta dan Jawa Tengah luluh lantak. Keadaan ini mengundang perhatian berbagai pihak. Bantuan pun berdatangan dari dalam dan luar negeri. Bantuan berbentuk makanan, obat-obatan, dan pakaian dipusatkan di beberapa tempat. Hal ini dimaksudkan agar pendistribusian bantuan tersebut lebih cepat. Tenaga medis dari daerah-daerah lain pun berdatangan. Mereka memberikan bantuan di beberapa rumah sakit dan tenda – tenda darurat.
Contoh Paragraf Eksposisi 6 (laporan)
Sebenarnya, bukan hanya ITS yang menawarkan rumah instan sehat untuk Aceh atau dikenal dengan Rumah ITS untuk Aceh (RI-A). Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Departemen Pekerjaan Umum juga menawarkan “Risha” alias Rumah Instan Sederhana Sehat. Modelnya hampir sama, gampang dibongkar-pasang, bahkan motonya “Pagi Pesan, Sore Huni”. Bedanya, sistem struktur dan konstruksi Risha memungkinkan rumah ini berbentuk panggung. Harga Risha sedikit lebih mahal, Rp 20 juta untuk tipe 36. akan tetapi, usianya dapat mencapai 50 tahun karena komponen struktur memakai beton bertulang, diperkuat pelat baja di bagian sambungannya. Kekuatannya terhadap gempa juga telah diuji di laboratorium sampai zonasi enam

Contoh Paragraf Narasi

    Ketika  bangun  pada hari  Senin  pagi, aku  sangat terkejut  karena   melihat jam di kamar telah  menunjukkan  pukul  06.30 WIB. Aku  langsung  bangun  dan  menuju  ke kamar  mandi. Sampai  di  kamar  mandi  tiba-tiba aku  terpeleset dan hampir saja mencederaiku.
Setelah mandi, aku berpakaian sekolah, sarapan pagi lalu berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda motor. Sesampainya di sekolah kulihat tasku untuk mengambil topi. Betapa terkejutnya aku, ternyata topiku tidak ada di dalam tas. Karena hari itu hari senin (ada upacara bendera) aku pulang ke rumah untuk mengambil topi. Selesai mengambil topi aku kembali lagi ke sekolah dengan menaiki sepeda motor. Tiba-tiba di jalan motorku mogok, setelah diperiksa ternyata bensinnya habis. Terpaksa kudorong motor untuk mencari tempat penjualan bensin eceran. Untunglah tempat penjualan bensin itu tidak jauh. Aku membeli satu liter bensin dan langsung tancap gas menuju ke sekolah.
Setibanya di sekolah ternyata murid-murid sudah berkumpul di lapangan. Upacara hampir saja dimulai. Aku pun tergesa-gesa berlari menuju ke lapangan upacara. Ketika upacara dimulai kepala sekolah langsung memberi pengarahan tentang tata tertib sekolah. Tiba-tiba datanglah seorang guru untuk memeriksa kerapian murid-muridnya, dan sialnya rambutku dinilai panjang oleh guru. Dengan leluasa serta tak kuasa kumenolak gunting yang ada digenggaman guru mencabik-cabik rambutku.
Dengan rambutku yang tak karuan, aku langsung masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Rupaya pelajaran tersebut mempunyai pekerjaan rumah (PR) dan aku lupa mengerjakan tugas tersebut lalu dihukum oleh guru untuk membuat tugas itu sebanyak tiga kali.
Aku langsung mengerjakan tugas itu. Sebelum aku mengerjakannya jam pelajaran pun habis lalu aku disuruh menulis beberapa kali lipat lagi oleh guru. Ketika sedang mengerjakan tugas itu, teman-teman ribut di kelas karena jam pelajarannya kosong. Dengan senangnya teman-teman pun bermain di kelas sehingga aku pun merasa terganggu. Aku menegurnya supaya tidak ribut lagi, ternyata mereka tidak senang dan tidak terima atas teguranku. Temanku tadi langsung merobek tugas yang sedang kubuat. Aku merasa kesal dan tanpa basa-basi lagi aku langsung menghajarnya sehingga terjadilah perkelahian.
Kami dipanggil wali kelas ke kantor untuk menyelesaikan masalah tersebut. Aku ceritakan masalah tersebut dan kami pun disuruh untuk bermaaf-maafan. Setelah itu kami disuruh untuk melupakan masalah tersebut, akhirnya lonceng pun berbunyi menandakan pulang sekolah. Kami pun langsung pulang ke rumah. Setibanya di rumah aku merasa senang karena permasalahan tersebut telah selesai. Aku bercerita tentang kejadian-kejadian yang aku alami di sekolah tadi dengan orang tuaku. Orang tuaku pun menasehati agar selalu mengerjakan tugas tersebut dan mentaati peraturan tata tertib yang ada di sekolah.

LPG Tentang Puisi

Puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata yang indah dan kaya makna. Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan irama yang terkandung dalam karya sastra itu. Adapun kekayaan makna yang terkandung dalam puisi dikarenakan oleh pemadatan segala unsur bahasa. Bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang digunakan sehari-hari. Puisi menggunakan bahasa yang diringkas, namun maknanya sangat kaya. Kata-kata yang digunakan adalah kata-kata konotatif, yang mengandung banyak penafsiran dan pengertian.
Apakah Puisi itu? Puisi termasuk salah satu genre sastra yang berisi ungkapan perasaan penyair, mengandung rima dan irama, serta diungkapkan dalam pilihan kata yang cermat dan tepat. Ciri-ciri puisi dapat dilihat dari bahasa yang digunakan serta wujud puisi tersebut. Bahasanya mengandung rima, irama, dan kiasan. Wujud puisi dapat dilihat dari bentuknya yang berlarik membentuk bait, letak tertata, dan tidak mementingkan ejaan. Mengenal puisi dapat juga membedakan wujudnya dengan membandingkan dari prosa. Ada empat unsur yang merupakan hakikat puisi, yaitu: tema, perasaan penyair, nada puisi, serta amanat.

Berdasarkan waktu kemunculannya puisi dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu puisi lama, puisi baru, dan puisi modern.

Parafrase adalah kegiatan membongkar isi puisi, menceritakan kembali sebuah puisi yg kata-katanya singkat menjadi sebuah prosa.
Yang dimaksud parafrase adalah mengubah puisi menjadi bentuk sastra lain (prosa). Hal itu berarti bahwa puisi yang tunduk pada aturan-aturan puisi diubah menjadi prosa yang tunduk pada aturan-aturan prosa tanpa mengubah isi puisi tersebut. Lebih mudahnya parafrase puisi adalah memprosakan puisi.
Perlu diketahui bahwa parafrase merupakan metode memahami puisi, bukan metode membuat karya sastra. Dengan demikian, memparafrasekan puisi tetap dalam kerangka upaya memahami puisi.
Menyisipkan kata diantara kalimat dlm puisi

Puisi lama lahir sebelum penjajahan Belanda dan masih murni berciri khas Melayu. Puisi lama terdiri dari: mantra, bidal, pantun dan karmina, talibun, seloka, gurindam, dan syair.

Puisi baru adalah puisi yang terpengaruh gaya bahasa Eropa. Penetapan jenis puisi baru berdasarkan jumlah larik yang terdapat dalam setiap bait. Jenis puisi baru dibagi menjadi distichon, terzina, quatrain, quint, sextet, septina, stanza, serta soneta.

Puisi modern adalah puisi yang berkembang di Indonesia setelah masa kemerdekaan. Berdasarkan cara pengungkapannya, puisi modern dapat dibagi menjadi puisi epik, puisi lirik, dan puisi dramatik.

Berdasarkan cara pengungkapannya, dikenal adanya puisi kontemporer dan puisi konvensional. Yang tergolong puisi kontemporer yaitu: puisi mantra, puisi mbeling, serta puisi konkret. Selain itu berdasarkan keterbacaan yaitu tingkat kemudahan memaknainya, puisi terdiri dari puisi diafan, puisi prismatis, dan puisi gelap.

Pendekatan dalam Mengapresiasi Puisi
Pendekatan merupakan seperangkat asumsi dan prinsip yang berhubungan dengan sifat-sifat puisi. Pendekatan dalam mengapresiasi puisi terdiri dari pendekatan terhadap teks puisi serta pendekatan dalam membaca puisi.

a. Pendekatan Parafrasis
Sesuai hakikatnya, puisi mengunakan kata-kata yang padat. Oleh sebab itu, banyak puisi yang tidak mudah untuk dapat dipahami terutama oleh pembaca pemula. Ada pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan penyair dalam bentuk baru yaitu menyisipkan kata atau kelompok kata dengan tujuan memperjelas makna puisi tersebut. Pendekatan ini bertujuan menguraikan kata yang padat dan menkonkretkan yang bermakna kias.

b. Pendekatan Emotif
Pendekatan ini berupaya mengajak emosi atau perasaan pembaca, berkaitan dengan keindahan penyajian bentuk atau isi gagasan. Yang ingin diketahui pembaca adalah bagaimana penyair menampilkan keindahan tersebut. Pendekatan ini juga sering diterapkan untuk memahami puisi humor, satire, serta sarkastis.

c. Pendekatan Analitis
Cara memahami isi puisi melalui unsur intrinsik pembentuk puisi. Unsur intrinsik adalah unsur yang secara langsung membangun puisi dari dalam karya itu sendiri. Unsur intrinsik puisi terdiri dari tema, amanat, nada, perasaan, tipografi, enjambemen, akulirik, rima, gaya bahasa, dan citraan.
Citraan merupakan suatu gambaran mental atau suatu usaha yang dapat dilihat di dalam pikiran (Laurence, 1973). Citraan tersebut termuat dalam kata-kata yang dipakai penyair. Citraan atau imaji dibagi menjadi:
1) Visual imagery
2) Auditory imagery
3) Smell imagery
4)Tactile imagery

d. Pendekatan Historis
Unsur ekstrinsik dapat terdiri dari unsur biografi penyair yang turut mempengaruhi puisinya, unsur kesejarahan atau unsur historis yang menggambarkan keadaan zaman pada saat puisi tersebut diciptakan, masyarakat, dan lain-lain.

e. Pendekatan Didaktis
Pendekatan ini berupaya menemukan nilai-nilai pendidikan yang tertuang dalam puisi. Agar dapat menemukan gagasan tersebut, pembaca dituntut memiliki kemampuan intelektual dan kepekaan.

f. Pendekatan Spsiopsikologis
Berupaya memahami kehidupan sosial, budaya, serta kemasyarakatan yang tertuang dalam puisi. Puisi yang dapat dipahami menggunakan pendekatan sosiopsikologis serta pendekatan didaktis adalah puisi naratif

Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/1935362-puisi/#ixzz1cNRQSpid

rpp kelas X mata pelajaran bahasa indonesia

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
SEKOLAH             : SMA Kartika Kendari
MATA PELAJARAN    : Bahasa Indonesia
KELAS             : X
SEMESTER             : 1
ALOKASI WAKTU        : 2 x 45 Menit

STANDAR KOMPETENSI
Mendengarkan: 1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan  secara langsung/tidak langsung.

KOMPETENSI DASAR
Menanggapi siaran atau informasi dari media elektronik (berita dan non berita).

INDIKATOR
    Kognitif
    Proses
    Mendengarkan berita yang dibacakan
    Mengidentifikasi pokok-pokok berita

    Produk
    Menentukan pokok-pokok berita
    Menulis isi berita yang didengar dengan kata-kata sendiri


    Psikomotor
    Menyampaikan berita yang telah ditulis
    Memberikan tanggapan terhadap berita yang disampaikan teman

    Afektif
    Karakter
    Teliti
    Tanggap
    Kritis
    Perhatian

    Keterampilan sosial
    Menyampaikan berita yang telah ditulis dengan baik dan benar
    Memberikan tanggapan terhadap berita yang disampaikan oleh teman.

TUJUAN PEMBELAJARAN
    Kognitif
    Proses
    Mendengarkan berita yang dibacakan
    Mengidentifikasi pokok-pokok berita

    Produk
    Setelah mendengarkan berita yang disampaikan secara langsung, siswa diharapkan mampu:
    Menentukan pokok-pokok berita
    Menulis isi berita yang didengar dengan kata-kata sendiri

    Psikomotor
Setelah mempelajari dan berlatih menguasai hasil pencapaian tujuan produk di atas, siswa secara mandiri diharapkan:
    Mampu menyampaikan berita yang telah ditulis
    Mampu memberikan tanggapan terhadap berita yang disampaikan teman


    Afektif
    Karakter
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperhatikan kemajuan dalam perilaku seperti kerja sama, teliti dan tanggap serta mempunyai perhatian terhadap berita yang disampaikan secara langsung.


    Keterampilan sosial
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan dalam kerampilan menyampaikan hasil penulisan berita dengan bahasa yang baik dan benar.


MATERI PEMBELAJARAN
    Teks berita

MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN
    Model pembelajaran : pembelajaran langsung (eksplisit)
    Metode pembelajaran
    Unjuk kerja
    Penugasan
    Tanya jawab

BAHAN
    Lembar kerja
    Spidol

ALAT
    Teks Berita











SKENARIO PEMBELAJARAN
No    Kegiatan    Penilaian Pengamat
        1    2    3    4
PERTEMUAN I
A1    Kegiatan awal (10 menit)
    Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan menanyakan keadaan siswa yang tidak hadir.
    Guru memberi motivasi kepada siswa.
    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
    Guru melakukan apersepsi dengan bertanya mengenai pengetahuan siswa tentang mencatat pokok-pokok berita.               
B1    Kegiatan inti (25 menit)
    Siswa secara individu membaca teori tentang menanggapi isi berita
    Guru membaca teks berita di depan kelas, lalu sisw mendengarkan berita yang dibacakan oleh guru tersebut.
    Sambil mendengar berita, siswa mencatat pokok-pokok berita yang dibacakan tersebut.
    Secara individu, siswa lalu menuliskan kembali isi berita yang telah didengarkannya.
    Setelah itu masing-masing siswa menyampaikan hasil berita yang ditulis di depan kelas
    Setelah siswa membacakan beritanya, siswa lain member tanggapan atau komentar terhadap berita yang dibacakan tersebut.
               
C1    Kegiatan akhir (10 menit)
    Guru dan siswa melakukan refleksi tentang pembelajaran hari ini.
    Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini.
    Guru memberi tugas kepada siswa kemudian pembelajaran ditutup dengan salam.
               

SUMBER PEMBELAJARAN
    Buku: Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA kelas X
    Materi esensial Bahasa Indonesia
    Silabus

EVALUASI DAN PENILAIAN
    Tugas Individu: Menggunakan LKS
    Jenis Tagihan Penilaian: LKS 1 dan LP 1
    Bentuk Instrumen Penilaian:
    Uraian Bebas
    Jawaban Singkat
 

LEMBAR KERJA SISWA
(LKS)


BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1



Standar Kompetensi
Memahami siaran atau cerita yang disampaikan  secara langsung/tidak langsung.




Oleh:
 
LKS 1:                              LEMBAR KERJA SISWA       Bahasa Indonesia
Nama…………………….       Kelompok………………     Tanggal……………….
Kegiatan 1
Dengarkanlah berita yang akan dibacakan!

Setelah mendengarkan berita, kerjakan langkah-langkah berikut:

    Tentukanlah pokok-pokok berita yang dibacakan!
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
    Tuliskan kembali berita yang kalian dengar menggunakan kata-kata sendiri!
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
LKS 2:                              LEMBAR KERJA SISWA       Bahasa Indonesia
Nama…………………….       Kelompok………………     Tanggal……………….
Kegiatan 2

    Dengarkan berita yang dibacakan, kemudian catatlah pokok-pokok berita yang terdapat di dalamnya!
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
    Setelah mencatat hal-hal pokoknya, kembangkan hal pokok tersebut menjadi berita yang baik.dengan kata-kata sendiri!
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………….

LEMBAR PEGANGAN GURU
(LPG)


BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1



Standar Kompetensi
Memahami siaran atau cerita yang disampaikan  secara langsung/tidak langsung




Oleh:
 





    Menanggapi isi berita
    Kita dapat memperoleh berbagai macam informasi dan pengetahuan dari membaca berita.informasi tersebut dapat menambah wawasan. Oleh karena itu, kita pelu memahami prinsip-prinsip berita. Pokok-pokok isi suatu berita menyangkut hal berikut:
    Tema atau nama peristiwa yang terdapat di dalam berita tersebut.
    Orang atau pelaku yang mengalami atau berperan dalam berita tersebut.
    Waktu yang berkaitan dengan saat terjadinya peristiwa dalam berita tersebut.
    Tempat terjadinya peristiwa dalam berita tersebut.
    Penyebab terjadinya peristiwa dalam berita tersebut
    Urutan terjadinya peristiwa dalam berita tersebut.

Setelah menentukan pokok-pokok isi berita, Anda dapat menanggapi isi berita yang Anda dengarkan. Tanggapan adalah sambutan terhadap hal, peristiwa, masalah, ucapan, pendapat, atau gagasan yang berupa kritik, komentar atau yang lain. Tanggapan dapat berupa pernyataan setuju, tidak setuju, suka, tidak suka, atau menambahkan pendapat.

Tanggapan yang dikeluarkan harus bersifat objektif dan disertai dengan alasan yang logis. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika mengemukakan tanggapan. Cara mengemukakan tanggapan adalah sebagai berikut:
    Tanggapan berhubungan dengan masalah yang sedang dibicarakan
    Tanggapan dapat mempercepat pemahaman masalah
    Tanggapan tidak mengulangi pendapat yang pernah disampaikan peserta lain
    Tanggapan disampaikan dengan kata atau kalimat yang tepat
    Tanggapan disampaikan dengan sikap terbuka dan sopan

    Pokok-pokok isi berita (5W + 1H)
Berita yang baik harus dapat menjelaskan beberapa hal berikut ini:
    Dapat menjelaskan peristiwa atau kejadian apa yang terjadi
    Dapat  menjelaskan penyebab atau alasan peristiwa atau kejadian tersebut terjadi
    Dapat menjelaskan pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut
    Dapat menjelaskan tempat terjadinya peristiwa atau kejadian tersebut
    Dapat menjelaskan waktu atau saat terjadinya peristiwa atau kejadian tersebut
    Dapat menjelaskan bagaimana peristiwa atau kejadian tersebut terjadi
    Jenis kalimat (berita, tanya, perintah)
Berdasarkan isinya, kalimat dapat dibagi ke dalam beberapa jenis, antara lain:
Kalimat berita adalah kalimat yang menginformasikan suatu hal. Kalimat berita diakhiri tkamu titik.
Fia memberikan hadiah kepada Hafshah.
Kalimat tanya adalah kalimat yang menanyakan suatu hal. Kalimat tanya diakhiri tkamu tanya.
Siapa yang memberikan hadiah?
Kalimat perintah adalah kalimat yang memerintahkan, menginstruksikan, meminta suatu hal. Kalimat tanya diakhiri tkamu seru.
Fia, tolong berikan hadiah ini kepada Hafshah!
Menanggapi isi berita
Tanggapan adalah ulasan atau tanggapan atas berita, pidato, dsb untuk menerangkan atau menjelaskan (KBBI, 1999: 515). Tanggapan juga dimaknai sebagai Written or spoken statement wich gives an opinion on or explains something/ somebody. (Oxford, 2005: 119) à bentuk pernyataan lisan atau tulisan untuk memberikan pendapat atau penjelasan tentang sesuatu/ seseorang. Jadi, dari pengertian di atas kita dapat mengetahui bahwa fungsi tanggapan adalah untuk menerangkan atau menjelaskan.
    Ciri-ciri Tanggapan (secara umum)
    Merupakan pernyataan
    Berbentuk lisan atau tulisan
    Bertujuan untuk menanggapi atau menjelaskan atas suatu hal yang sebelumnya disampaikan/ dilakukan pihak lain.
    Indikator Tanggapan yang baik
    Tanggapan disampaikan dengan bahasa dan sikap (jika tanggapannya berbentuk lisan) yang santun
    Tanggapan yang disampaikan dengan menyertakan alasan yang relevan dan seperlunya
    Tanggapan yang disampaikan tidak berlebihan
    Tanggapan yang disampaikan tidak bertujuan merendahkan atau memojokkan pihak lain



LEMBAR PENILAIAN
(LP)


BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1



Standar Kompetensi
Memahami siaran atau cerita yang disampaikan  secara langsung/tidak langsung




Oleh:



LP 1 : KOGNITIF PROSES

Pedoman Penskoran LKS 1
No    Komponen    Deskriptor    Skor
            1    2    3
1    Mendengarkan berita yang dibacakan
   
Siswa mampu mendengarkan berita yang dibacakan

           
    Mengidentifikasi pokok-pokok berita
    Siswa mampu mengidentifikasi pokok-pokok berita
           

Keterangan:
    (3) sangat tepat
    (2) tepat
    (1) tidak tepat


    Cara Pemberian Nilai

Rumus:                        Nilai=(Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun)   x  100
 
LP 2 : KOGNITIF PRODUK

Pedoman Penskoran LKS 2
No    Komponen    Deskriptor    Skor
            1    2    3
1    Menentukan pokok-pokok berita
    Siswa mampu menentukan pokok-pokok berita
           
2    Menulis isi berita yang didengar dengan kata-kata sendiri
    Siswa mampu menulis isi berita yang didengar dengan kata-kata sendiri
           

Keterangan:
    (3) sangat tepat
    (2) tepat
    (1) tidak tepat


    Cara Pemberian Nilai

Rumus:                        (Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun)   x  100
 
LP 3 : PSIKOMOTOR

Pedoman Penskoran LKS 2
No    Komponen    Deskriptor    Skor    Catatan
1   
Menyampaikan berita yang telah ditulis, dengan kriteria:

    Suara




    Lafal




    Intonasi   




    Sangat jelas
    Kurang jelas
    Tidak jelas  


    Sangat jelas
    Kurang jelas
    Tidak jelas  


    Sangat jelas
    Kurang jelas
    Tidak jelas       





3
2
1


3
2
1


3
2
1   
2   
Memberikan tanggapan terhadap berita yang disampaikan teman
   
Siswa mampu memberikan tanggapan terhadap berita yang disampaikan teman
   
1

2

3
   
Keterangan:
    (3) sangat tepat
    (2) tepat
    (1) tidak tepat

    Cara Pemberian Nilai

Rumus:                        (Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun)   x  100
LP 4 : AFEKTIF (KARAKTER)
No    Karakter    Skor Total
    Tanggung Jawab    Disiplin    Ketekunan    Kreatif    Kritis   
1    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
2    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
3    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
5    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
6    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
7    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
8    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
9    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
10    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
11    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
12    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
13    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
14    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
15    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
16    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
17    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
18    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
19    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
20    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
21    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
22    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
23    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
24    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
25    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
26    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
27    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
28    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
29    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
30    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
31    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
32    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
33    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
34    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
35    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
36    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
37    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
38    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
39    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
40    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
Keterangan
4    = sangat baik        2    = kurang baik
3    = baik            1    = tidak baik

LP 5 : AFEKTIF (KECAKAPAN SOSIAL)
No    Karakter    Skor Total
    Inisiatif    Berbahasa Santun dan Komunikatif    Partisipasi   
1    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
2    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
3    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
4    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
5    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
6    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
7    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
8    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
9    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
10    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
11    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
12    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
13    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
14    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
15    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
16    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
17    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
18    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
19    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
20    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
21    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
22    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
23    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
24    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
25    1 2 3 4    1 2 3 4    1 2 3 4   
…               

Keterangan
4    = sangat baik        2    = kurang baik
3    = baik            1    = tidak baik


Kendari,13 Desember 2011
Mengetahui,                                         
Guru Pamong                                    Mahasiswa KKP-PPL

Nur Niati, S.Pd                                    Eka Cahyowati
                         Menyetujui,
                    Kepala Sekolah

Drs. H. NP. Dahlan

    Media Pembelajaran














   

preposisi dalam bahasa indonesia

BAB 1
PENDAHULUAN

        Latar Belakang dan Masalah
    Latar Balakang
Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia disekolah-sekolah  mencakup tig komponen pokok,yaitu kebahasaan,pemahaman,dan penggunaan.Penguasaan ke tiga komponen tersebut di maksudkan agar siswa dapat berkomunikasi dengan baik dan benar,baik secara lisan maupun secara tertulis. Hal ini dapat tercapai apabila guru dapat menyiapkan materi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang mengarah pada penguasaan ketiga komponen tersebut,sesuai dengan rambu-rambu pembelajaran yang ditentukan dalam GBPP/Kurikulum 1994.
Salah satu komponen pembelajaran bahasa dan sastra yang mendasar dikuasai siswa adalah komponen kebahasaan. Komponen ini di anggap penting karena kedua komponen lainya ( pemahaman dan penggunaan ) tidak dapat dikuasai dengan baik oleh siswa,bila tidak menguasai komponen kebahasaan. Oleh karena itu,pembelajaran kebahasaan yang dilaksanakan oleh guru,baik terpadu maupun terpisah dengan yang lainnya tetap mendapat perhatian utama dalam pembelajaranbahasa dan sastra indonesia.
Di antara materi pembelajarankebahasaan yang patut dikuasai siswa adalah preposisi. Materi ini telah diperkenalkan kepada siswa sejak sekolah dasar hingga jenjang yang lebih tinggi ( SLTP dan SMU ) sesuai dengan tingkat pendidikan dan kebutuhab siswa ( pembelajar). Pentingnya penguasaan preposisi bahasa indonesia, khususnya pada jenjang SLTP termuat dalam tujuan khusus pembelajaran kebahasaan butir 6, yakni ‘’ siswa mampu mengenal dan mengetahui berbagai kata tugas dan preposisi’’ (GBPP SLTP<1993: 2). Hal ini menunjukan bahwa penguasaan preposisi bagi jenjang SLTP mutlak diperlukan untuk mendukung penguasaan aspek kebahasaan mereka. Akan tetapi keluhan berbagai kalangan utamanya para guru bahasa dan sastra indonesia terhadap penguasaan preposisi bahasa indonesia terus bergulir. Diantara keluhan tersebut adalah kurangnya penguasaan preposisi bahasa indonesia siswa,baik pada jenjang baik pada jenjang sekolah menengah (SMA dan SMK). Kurangnya penguasaan siswa tersebut terkait pula dengan kemampuan mereka memahami preposisi bahasa indonesia. 
Ramlan (1987:9) mengemukakan bahwa kemampuan memahami preposisi bagi siswa di sekolah-sekolah adalah sangat penting untuk menunjang kecermatan mereka menuangkan gagasan secara tertulis. Sebab , pada kenyataanya masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menempatkan preposisi ataupun menuliskan preposisi bahasa indonesia dengan tepat ketika mereka ingin menuangkan gagasan secara tertulis,baik dalam bentuk kalimat,paragraf,maupun karangan.
Dari kenyataan yang dikemukakan di atas perlu dilakukan upaya peningkatan penggunaan preposisi bahasa indonesia siswa. Upaya meningkatkan kemampuan siswa menggunakan preposisi bahasa indonesia, telah berjalan cukup lama dalam pembelajaran bahasa indonesia disekolah-sekolah baik di tingkat SD,SLTP, maupun SMU. Termasuk pula di SLTP Negeri 2 Kosambi. Diantara upaya yang dilakukan oleh guru bahasa dan sastra indonesia dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap preposisi bahasa indonesia adalah melakukan kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada kegiatan melatih siswa menggunakan preposisi pada saat menuangkan gagasan secara tertulis,baik dalam bentuk kalimat,paragraf,maupun karangan. Dalam hal ini siswa dibawa kepengalaman melakukan kegiatan menggunakan preposisi dalam konteks yang sesungguhnya. Untuk mempertajam keterampilan siswa menggunakan preposisi bahasa indonesia, siswa tidak saja diarahkan pada upaya penggunaan preposisi dalam bentuk komunikasi tertulis, tetapi juga dalam bentuk komunikasi lisan. Hal itu  tampak dan cara guru memanfaatkan berbagai teks tertulis dan jenis komunikasi lisan sebagai sumber pembelajaran bahasa dan sastra indonesia selama ini.

Sehubungan dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh guru bahasa dan sastra indonesia dalam meningkatkan penggunaan preposisi tersebut di atas, tingkat keberhasilannya perlu di ukur melalui pengumpulan informasi dan analisis. Pengukuran keberhasilan siswa menggunakan preposisi bahasa indonesia didasarkan pada kenyataan bahwa preposisi atau kata depan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam pembelajaran bahasa indonesia dan dalam tutur setiap hari. Data dan informasi seperti itulah yang hendak di gali dari penelitian” kemampuan menggunakan preposisi bahasa indonesia siswa kelas 1 SLTP Negeri 2 Kosambi” ini pilihan terhadap kelas 1 SLTP Negeri 2 Kosambi ini didasrkan pada pertimbangan bahwa jenjang kelasa 1 merupakan dasar pembentukan penhetahuan kebahasaan bagi siswa SLTP melalui jenjang sekolah dasar karena materi ini telah diperkenalkan kepada siswa sejak kelas IV SD walaupun dalam tingkatan yang sederhana, pada jenjang pendidikan sekolah dasar kelas 1V, preposisi diperkenalkan dengan sebutan kata depan dan merupakan bagian dari pembelajaran struktur bahasa Indonesia. Materi pembelajarannya antars lain memuat: kata depan tempat: di, ke: kata depan waktu: pada; dan kata depan alat: dengan (GBPP SD, 1993: 39)
1.1.2.Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, dapatlah dirumuskan masalah penelitian ini, yakni: “Apakah penggunaan preposisi bahasa Indonesia siswa negeri 2 kosambi?”
       Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.2.1 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi yang lengakap mengenai kemampuan preposisi bahasa indonesia siswa kelas 1 SLTP Negeri 2 kosambi


1.1.2 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi guru bahasa indonesia utamanya di SLTP Negeri 2 kosambi dalam upaya menghindari atau mencegah kesalahan yang sejenis pada waktu yang akan datang, sehingga dapat menggunakan preposisi bahasa indonesia dengan tepat dalam berbagai konteks komunikasi, baiak secara lisan maupun tertulis. 
Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan penelitian dan pengkajian lanjutan yang relevan dengan objek penelitian ini.
    Ruang Lingkup Penelitian
Untuk terarahnya penelitian ini perlu ditetapkan ruang lingkup kajian sesuai dengan kemampuan menggunakan preposisi bahasa indonesia siswa kelas 1 SLTP. Secara umum preposisi bahasa indonesia terbagi dalam dua jenis, yaitu preposisi monomorfemis dan polimorfemis. Polimorfemis terbagi pula kedalam dua bagian, yaitu preposisi polifermis dengan afiks dan preposisi polimorfemis berupa gabungan kata. Kedua jenis preposisi tersebut ditetapkan sebagai objek penelitian ini yang disesuiakan dengan materi preposisi yang ada dalam GBPP MPBSI SLTP kelas 1. Materi preposisi yang sesuai dengan GBPP tersebut sekaligus menjadi objek penelitian ini mencakup:
    preposisi monomorfemis atau preposisi tunggal: di, ke, dari, pada, dengan, seluruh. Terhadap.
    Preposisi polimorfemis atau preposisi majemuk: daripada, kepada, sampai, dengan.




1.4 Batasan Istilah
Batasan istilah yang digunakan berkaitan dengan judul penelitian ini adalah sebagai berikut:
    kemampuan menggunakan preposisi adalah kesanggupan atau kecakupan siswa menggunakan preposisi bahasa indonesia susuai dengan konteks kalimat yang benar, baik secara lisan maupan tertulis.
    Preposisi adalah kata tugas yang terletak di depan kategori lain yang berfungsi sebagai penanda unsur pembentuk frasa preposisional yang eksosentris.
    Preposisi monomorfemis atau preposisi tunggal adalah preposisi yang terdiri hanya atas morfem dan karena itu tidak dapat diperkecil lagi bentuknya,
    Preposisi polimorfemis atau preposisi majemuk adalah preposisi yang merupakan gabungan dua preposisi dan tidak dapat diperkecil lagi bentuknya.
 









BAB II
    KAJIAN PUSTAKA   
2.1 Pengertian Preposisi
Hampir semua buku bahasa membicarakan masalah kata depan atau preposisi. Dalam kajian pustaka yang dijadikan sebagai acuan penelitain ini, digunakan istilah preposisi dan istilah kata depan, dengan alasan bahwa istilah itu sudah sangat lazim dipakai dalam lingkungan pengajaran tata bahasa di sekolah-sekolah.
Dalam buku-buku tata bahasa indonesia pada umumnya kata depan ditentukan secara tradisional, sebagai kata yang mengatakan hubungan atau pertalian antara pengertian yang satu dengan ytang lainnya (Ramlan, 1987: 13). Berbeda dengan penentuan diatas, yaitu penentuan yang dilakukan oleh Keraf, Slametmuljana, Wojowasito, dan Moelino.
Keraf dalam bukunya tata bahasa indonesia menentukan kata depan berdasarkan ciri morfologi dan ciri sintaksis. Secara morfologi, pada umumnya kata depan sukar sekali mengalami perubahan bentuk dan secara sintaksis kata golongan tersebut tidak dapat mendduki fungsi subjek, predikat dan objek, melainkan berfungsi untuk memperluas atau mengadakan transfomasi kalimat. Selain itu, kata depan tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat.
Slametmuljana dalam bukunya kaidah bahasa indonesia (jilid 2) menentukan kata depan berdasarkan fungsi kata dalam kalimat. Berdasarkan fungsinya kata-kata itu digolongkan menjadi empat bagian, yakni golongan kata-kata membantu pertalian.
Wojowasito dalam bukunya pengantar sintaksis bahasa indonesia menentukan kata depan berdasarkan ciri sintaksis, bahwa kata golongan ini memiliki fungsi adverbal yang biasanya terletak di muka kata benda. Selain itu, dikemukakan bahwa kata golongan ini menyatakan hubungan antara pernyataan yang terkandung dalam kata-kata dimuka dan dibelakangnya.
Moeliono dalam bukunya penyusun tata bahasa struktural menyinggumg pula masalah kata depan. Ia menyebutnya dengan istilah preposisi. Menurutnya kata preposisi yang termasuk ke dalam golongan partikel merupakan kata yang pada umumnya mendahului kata nominal dan taiak pernah terdapat pada akhir kalimat.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli diatas, dapatlah dikemukakan bahwa kta depan atau preposisi adalah kata tugas yang bertugas saebagai unsur pembentuk frasa preposisional. Preposisi terletak dibagian awal frasa dan unsur yang mengikutinya dapat berupa nomina, adjektiva, atau verba.
Beberapa pengertian lain yang berkaitan dengan preposisi yakni sebagai berikut:
    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) dikemukakan bahwa preposisi kata yang biasas terdapat didepan nomina.
    Chaer (1987:23) mengatakan bahwa preposisi adalah kata atau gabungan kata yang berfungsi menghubungkan kata atau frasa sehingga terbentuk sebuah frsa eksosentrik, yakni frasa yang lazim menduduki funfsi keterangan dalam kalimat.
    Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dikatakan bahwa preposisi atau kata depan kata tugas yang bertugas sebagai unsur pembentuk frasa preposisi.
    Wedhawati, (1990:7-8) menemukakan pula bahwa preposisi dapat didefenisikan sebagai golongan kata yang merupakn srtuktur, yaitu golongan kata yang hanya memiliki fungsi di dalam struktur sintaksis.
    Dalam Kamus Linguistik dikatakan pula bahwa preposisi (preposition) adalah partikel yang biasanya terletak di depan nomina dan menghubungkannya dengan kata lain dalam ikatan eksosentris, misalnya di, ke, dan dari.
    Efendi dan Aritonang (1993:64) juga mengatakan bahwa preposisi dapat dinyatakan sebagai dua wujud, yakni pelengkap preposisi dan bagian lain dalam kalimat.
2.2  Jenis-jenis Preposisi
Kridalaksana(1993:55-97) mengemukakan preposisi terbagi atas tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
    Preposisi dasar, yakni preposisi yang tidak dapat menghalangi proses morfologis.
    Preposisi tuturan yang terbagi atas dua bagian, yaitu (1) gabungan preposisi dengan preposisi dan (2) gabungan preposisi dengan nonpreposisi.
    Preposisi yang berasal dari kategori lain, misalnya pada,tanpa, dan sebagainya,termasuk beberapa preposisi yang berasal dari kelas kata lain yang berprefiks se-,misalnya selain,sesmenjak,dan sebagainya.
2.3 Ciri-ciri Preposisi 
    Ciri-ciri preposisi dapat diketahui melalui beberapa cara yaitu:
    Secara morfologis,preposisi sukar sekali mengalami perubahan bentuk walaupun ada yang mengalami perubahan bentuk;
    Secara sintaksis, preposisi tidak dapat menduduki fungsi subjek, predikat, objek dalam kalimat.
    Secara semantik, preposisi tidak dapat memililki arti leksikal.
    Dari segi distribusinya, preposisi tidak pernah terdapat di akhir kalimat dan biasanya mendahului nomina(Ramlan, 1987:16).
Jika di lihat dari manifestasi kriteria fungsi, maka preposisi, (1) menyatakan pertalian kata benda tertentu dengan kata lain dalam kalimat, (2) menyatakan pertalian maka kata-kata atau bagian-bagian ka;imat atau penanda konstruksi frasa eksosentrik.

2.4  Preposisi Monomorfemis
    Preposisi monomorfemis adalah preposisi yang terdiri hanya atas morfem dan karena itu tidak dapat diperkecil lagi bentuknya. Berikut adalah preposisi dalam bahasa indonesia beserta beberapa fungsinya.
    bagi
    untuk          menandai hubungan peruntukan
    buat
    guna

    dari                               menandai hubungan asal, arah, dari suatu tempat
    dengan        menandai hubungan kesertaan atau cara
    di    menandai hubungan tempat berada

    ke        menandai hubungan arah menuju suatau tempat
    oleh    menendai hubungan pelaku
    pada    meandai hubungan tempat atau waktu
    tentang        menandai hubungan ihwal atau peristiwa
    sejak    menandai hubungan waktu dari saat yang satu ke saat yang lain (Depdikbud, 1988:288).
        Menurut alwi et.al (1999: 288) preposisi monomorfemis pada prinsipny sama dengan preposisi sama dengan preposisi tunggal yaitu preposisi yang hanya terdiri atas satu kata . bentuk preposisi tunggal tersebut berupa (1) kata dasar, misalnya di, ke, dari, dan pada dan (2) kata berafiks seperti selama, mengenai, dan sepanjang. Selanjutnya, Alwi, et.al menjelaskan bahwa preposisi yang berupa kata dasar hanya terdiri atas satu morfem. Berikut adalah contohnya:
    akan    takut akan kegelapan
    antara    antara anak dan ibu
    bagi    bagi para siswa
    buat    buat teman-teman
    dari    berasal dari bogor
    demi    demi orang tua
    dengan    pergi dengan temannya
    di    tidur di kursi
    ke    pergi ke kantor
    pada    ada pada saya
    oleh    di beli oleh Ali. (Alwi, et.al, 1992: 289).
Penulisan di, ke sebagai awalan:
    diusir                (sebagai awalan)
    diinjak                (sebagai awalan)
    diambil            (sebagai awalan)
    kekasih                (sebagai awalan)
    kehendak            (sebagai awalan)
    ketua                (sebagai awalan)
Penulisan di, ke, sebagai preposisi:
    Di samping            (sebagai preposisi)
Di bawah            (sebagai preposisi)
    Di atas                (sebagai preposisi)
    Ke kantor            (sebagai preposisi)
    Ke sana            (sebagai preposisi)
2.5. Preposisi Polimorfemis
    Preposisi polimorfemis atau preposisi majemuk terdiri atas dua macam, yaitu (1) yang dibentuk dua preposisi yang berdampingan, dan (2) yang dibentuk dengan dua preposisi yang berkorelasi.
2.5.1. Preposisi Polimorfemis yang berdampingan
    Preposisi polimorfemis yang berdampingan terdiri atas dua preposisi yang letaknya berurutan. Berikut adalah contoh preposisi yang berdampingan.
    Daripada        Menara ini lebih tinggi daripada pohon itu.
    Kepada        Buku itu diberikan kepada adik.
    Oleh  karena        Ia tidak termasuk oleh karena penyakitnya.
    Sampai  ke         Kami berjalan sampai ke bukit.
Sampai dengan     Andri menjawab soal nomor 1 sampai dengan nomor 5.
(Alwi,et.al,1999:289-290)
2.5.2. Preposisi Polimorfemis yang Berkorelasi.
    Preposisi Polimorfemis yang berkorelasi ini terdiri atas dua unsur yang dipakai berpasangan, tetapi terpisah oleh kata atau frasa lain. Berikut contohnya:
    Antara......dengan....
    Dari........hingga.....
    Dari .......ke.....
    Sejak.....sampai....
    Sejak.....hingga....
    Contoh :
Antara dia dangan adiknya ada perbedaan yang mencolok.
    Kami membanting tulang dari pagi hingga petang.
    Kami tidak tahu berapa jauhnya dari rumah kami sampai ke desa itu.
    Dari lahir sampai berumur sepulh tahun dia ikut neneknya.
    Saya tidak bertemu dengan beliau lagi sejak rapat itu hingga kini.
    Sejak menikah sampai punya anak satu kami tidak berumah sendiri.
(Alwi,et,el,1999:291)
2.6. Penggunaan Preposisi.
    Telah kita pahami bahwa kata dalah kesatuan bahasa yang terkecil yang melambangkan pengertian, sedangkan arti atau makna adalah hubungan berupa tanda atau lambang bunyi ucapan dengan hal atau barang yang dimaksudnya yang telah disepakati oleh masyarakat pemakai bahasa (Ambari,1986:208).
    Bahasa adalah suatu sistem tanda. Yang dimaksut tanda adalah tiap lambang yang digunakan sebagai alat komunikasi. M enurut Fredinan de Saussure di sini adalah persatuan yang tidak terpisahkan antara makna (signifie) dengan bentuk (signifiant).dengan bentuk (signifikant).
Bertolak dari pendapat di atas,preposisisi atau kata depan sebagai salah satu unsur bahasa harus dikaji dua aspek tadi, yaitu arti kata dan bentuk kata. Makna dimakssudkan sebagai peerubahan arti akibat anaksir preposisi sedangkan bentuk adalah wujud yang langsung dilihat dan didengar.
Menurut ejaan bahasa indonesia yang disempurnakan, preposisi di, ke, dapat ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya, atau ditrulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, Dengan alasan bahwa preposisi di, ke, mempunyai dua fungsi yaitu sebagai preposisi.
Jadi di, ke sebagai awlan makna penulisannya dilakukan secara serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di, ke sebagai  preposisi penulisannya dilakukan secara terpisah dengan kata yang mengikutinya. Dengan demikian akan tampak perbedaannya, berikut ini contoh penulisan di,ke sebagai awlan preposisi.
Penulisan di, ke sebagai awalan:
diusir                               (sebagai awalan )
diinjak                             (sebagai  awalan)
diambil                            (sebagai awalan)
kekasih                            (sebagai awalan)
kehendak                        (sebagai awalan)
ketua                                (sebagai awalan)
Penulisan di,ke  sebagai preposisi:
di samping                     ( sebagai preposisi)
di bawah                           (sebagai preposisi)
di atas                                (sebagai preposisi)
ke kantor                           (sebagai preposisi)
ke kendari                         (sebagai preposisi)
ke sana                               (sebagai preposisi)
Disamping itu, preposisi ke,dari dengan preposisi lainnya agaknya mengalami kesulitan kiarena preposisi kepada sering orang  menulisnya ke pada dan preposisinya dari pada orang sering menulisnya dari  pada, padahal kedua gabungan preposisi itu sudah dianggap senyawa (Badudu, 1985:  150). Sejalan dengan penjelasan di atas, maka berikut ini berbagai penerapanya dalam kalimat.
2.6.1 Penggunaan PreposisiMonomorfemis
Penggunaan preposisi monofermis di, ke, dan dari masing masing memberikan makna tertentu. Berikut adalah contoh penggunaanya dalam kalimat.
     Preposisi di gunakan untuk menandai makna tempat berada (Ramlan, 1980: 65)
Contoh:
      Ledakan com pertama diperingati di Hirosima.
      Aku menemukan seorang anak yang sudah sangat lemah di hutan ilalang.
      Pengambilan batu karang, batu hitam, dan pasir pantai semakin meningkat di beberapa tempat.
    Preposisi di digunakan untuk menandai makna sebagian dari (Ramlan, 1980:69)
          Contoh:
     Ia   mengundang kita ke kebun   karet..
     Sehari penuh mereka akan bertamasya ke pantai.
     Nina mengankat bahu melihat ke kiri dan ke kanan, lalu keluar.
    Saya berangkat menuju ke kapal itu.

      Preposisi  di gunakan untuk menandai makna sebagian dari (Ramlan, 1980: 69)
Contoh:
    Di antaranya mereka ada yang menderita sakit jiwa.
    Dua orang di antara mereka duduk di kursih roda.
    Ketika itu, di antara seperempat juta jiwa yang hadir terdapat lebih dari seratus wakil pemerintah dari  berbagai negaraa dan tokoh-tokoh trkemuka.

    Preposis dari digunakan untuk menandai makna asal (Ramlan, 1980:46)
Contoh:
    Pak Sukar dari Jakarta.
    Bahan pencemar itu sembiulan puluh persen dari darat.



                                          






    BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITAN
3.1. Jenis dan Penelitian
Penelitian ini tergolong ke dalam penelitian lapangan. Sedangkan metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, yakni berusaha mendeskripsikan kenyataan- kenyataan yang ditemuykan dilapangan, umumnya yang berhubngan dengan kemampuan menggunakan preposisi bahasa Indonesia siswa kelas I SLTP Negeri 2 Kosambi. Pendiskipsian kemampuan menggunakan preposisi bahasa Indonesia tersebut didukung dengan angka- angka perhitungan berdasarkan prinsip- prinsip statistik.
3.2. Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas I SLTP Kusambi yang terdaftar pada tahun pelajaran 2002/ 2003. Populasi tersebut berjumlah 120 orang yang tersebar pada tiga kelas parallel dengan karakteristik homogeny. Dalam hal ini tidak ada kelas unggulan.
3.2.2. Sampel Penelitian
Sampel yang diterapkan sebagai sasaran penelitian ini adalah 60 orang dari jumlah populasi. Dalam hal ini setiap kelas diwakili 20 siswa yang ditetapkan dengan teknik random sampling. Penggunaan random sampling ini didasarkan pada pertimbangan bahwa populasi memiliki peluang sama untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian ini. Hal ini sesuai dengan pendapat Dixon dan massey (dalam samiyono, 1991 :54) bahwa populasi yang memiliki karakteristik yang homogeny memiliki peluang sama untuk ditetapkan sebagai sampel.
Adapun langkah-langkah penetapan sampel dengan teknik random sampling tersebut adalah (1) menyediakan lembaran kertas kecil sebanyak jumlah populasi setiap kelas, (2) memberi kode berupa angka 1-20, (3) menggulung kertas kecil itu dengan sebaik- baiknya, (4) memesukan gulungan kertas kedalam kotak, (5) mengaduk gulungan kertas dan setiap siswa mengambil satu gulung, kemudian siswa yang mendapat gulungan kertas bernomor menjadi sampel penelitian.
3.3 Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan instrument berupa tes kemampuan menggunakan preposisi bahasa Indonesia untuk siswa kelas I Kelas SLTP yang dikembangkan preposisi bahasa Indonesia untuk siswa kelas I SLTP yang dikembangkan berdasarkan materi kelas I semester I sebagaimana yang termuat dalam ruang lingkup penelitian ini. Tes tersebut digunakan atau diberikan kepada 60 responden yang memiliki siswa kelas I SLTP Negeri 2 Kosambi. Hal- hal yang bersangkut- paut denga penelitian tersebut dapat dilihat pada uraian penelitian berikut.
3.3.1 Bentuk Instrumen
Bentuk teks yang digunakan untuk mengetahui kemampuan menggunakan preposisi bahasa Indonesia siswa kelas I SLTP Negeri 2 Kosambi ini adalah esai tertutup berupa pembuatan kalimat dengan menggunakan preposisi yang ditetapkan sebagai terlampir. Penggunaan teks tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa dengan tes ini diharapkan materi yang dikembangkan untuk mengetahui kemampuan menggunakan preposisi bahasa Indonesia benar-benar dapat mengukur kemampuan siswa kelas I SLTP Negeri 2 Kosambi menggunakan preposisi sesuai dengan konteks kalimat yang benar.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel yang ditetapkan sebagai sasaran penelitian ini adalah 60 orang dari jumlah populasi. Dalam hal ini setiap kelas diwakili 20 siswa yang ditetapkan dengan teknikrandom sampling. Penggunaan random sampling ini didasarkan pada pertimbangan bahwa populasi memiliki peluang yang memiliki karakteristik yang homogen memiliki peluang sama untuk ditetapkan sebagai sampel dalam penelitian  bahwa populasi yang memiliki karakteristik yang homogeny memiliki peluang sama untuk ditetapkan sebagai sampel. Untuk membuat kalimat dengan menggunakan preposisi bahasa Indonesia yang ditetapkan, yakni masing- masing preposisi digunakan untuk dua kalimat sehingga total skor dari 10 butir soal tersebut adalah 20. Preposisi yang digunakan untuk pembuatan kalimat tersebut dikembangkan dari dua komponen kemampuan menggunakan preposisi bahasa Indonesia, yakni 17 butir (14 skor) yang berkaitan dengan kemampuan menggunakan preposisi monomorfemis dalam kalimat: di, ke,dari,pada, dengan, seluruh, terhadap, dan 3 butir (6 skor) yang berkaitan dengan kemampuan menggunakan preposisi polimorfemis dalam kalimat: daripada, kepada, sampai dengan.
Setaip jawaban benar diberi rentangan skor antara 0-2. Realisasi pemberian skor tersebut adalah sebagai berikut:
    Diberi skor 2 apabila kedua contoh kalimat yang dibuat responden dengam menggunakan preposisi tepat.
Contoh:
    Ia tinggal di Kusambi (benar)
    Di sana ia membeli bbarang-barang elektronik (benar)
    Diberi skor 1 apabila hanya satu contoh kalimat yang dibuat benar.
Contoh:
    Ia tinggal di Lainea (benar)
    Di sana ia membeli barang-barang elektronik (salah)
    Diberi skor 0 apabila kedua contoh kalimat yang dibuat responden tidak ada yang benar atau keduanya salah.
Contoh:
    Ia tinggal di Lainea (salah)
    Disana ia membeli barang-barang elekrtonik (salah)
Mengingat jawaban setiap butir terisi atau dua jawaban, mmaka jawaban tertinggi yang diperoleh responden bila menjawab benar semua adalah 20 dan jawaban terendah yang dipewroleh responden bila tidak satupun memberikan jawaban benar adalah 0.
3.4 Uji Coba Tes
Instrumen penelitian (tes kemampuan menggunakan preposisi) sebelum digunakan sebagai alat pengumpul data, terlebih dahulu diujicobakan pada sekolah lain yang diasumsikan mempunyai pengetahuan yang relarif sama dengan responden . Hal itu dimaksudkan untuk mendapatkan yang valid(sahih) dengan menganalisis kesahihan butir tes (validitas), keterpercayaan alat tes (realibilitas), tingkat kesukaran (TK) , dan daya pembaca (DP) butir tes. Dalam hal itu, uijicoba tes dilaksanakan pada siswa kelas semester I SLTP Negeri 2 Kosambi Tahun 2002/2003, yakni sebanyak 30 orang.
Penetapan SLTP Negeri 1 Lainea sebagai tempat uji coba tes didasarkan pada beberapa pertimbangan sebagai berikut: (1) pengajaran bahasa dabn sastra Indonesia pada sekolah ini sama dengan sekolah tempat sampel, yakni mengacu pada GBPP Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 1994, (2) guru yang mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia di sekolah tenmpat sampel, yakni sama-sama berkualitas S-1  dan mempunyai pengalaman mengajar diatas lima tahun,(3) kemampuan siswa kelas 1 SLTP Negeri 1 Kusambi pada hakekatnya memiliki kemampuan yang relatif sama. Karena kedua sekolah ini tidak meneraopkan adanya kelas unggulan, melainkan siswa dikelompokkan menurut abjad nama siswa.
3.4.1 Validitas Tes
Pengukuran validitas tes ini dimaksudkan untuk menunjukkan tingkat kevalitan atau kesahihan sebuah instrument. Validitas tes yang digunakan berupa validitas tes . Analisis validitas isi dilakukan dengan cara menyesuaikan materi butir tes dengan materi yang termuat dalam GBPP MPBSI 1994 SLTP kelas 1.
Berdasarkan hasil analisis validitas isi disimpulkan bahwa materi kemampuan menggunakan preposisi bahasa Indonesia yang termuat dalam GBPP MPBSI 1994 SLTP kelas 1. Materi preposisi bahasa Indonesia yang termuat dalam GBPP tersebut dinyatakan dalam salah satu tujuan khusus kebahasaan , yakni siswa mampu mengenal dan mengetahui berbagai kata tugas dan preposisi (GBPP SLTP,1994: 2). Walaupun demikian, tetap dilakukan perhitungan korelasi unntuk mengetahui tingkat validitas butir tes yang digunakan sebagai insrtumen penelitian. Perhitungan validitas yang dimaksud menggunakan korelasi product moment dari pearsen (dalam Arikunto, 1998:162) dengan rumus sebagai berikut:
rXY = (N∑XY-(∑X)(∑Y))/√({N∑X2-(∑X)2}  {N∑Y2-(∑y)2})
Keterangan:
N = jumlah responden
X= nilai kemampuan menggunakan preposisi bahasa Indonesia
3.4.2 Reliabilitas Tes
Untuk mengetahui reliabilitas tes yang dilakukan sebagai alat pengumpul data penelitian ini, dapat di hitung denagan menggunakan rumus:
 rii = [K/(K-1)] [(Vt- ∑P4)/Vt]        (Arikunto. 1998:182)
Keterangan :
rii      = Reliabilitas
k     = Jumlah bubar soal
Vt     = Varians total
P    =Preposisi jawaban benar
q     = Preposisi jawaban salah (1-p)
Hasil perhitungan reliabilitas menunjukkan bahwa tes tersebut mempunyai tingkat reliabilitas yang dikategorikan tinggi. Jadi, tersebut memenuhi syarat untuk digunakan sebagai alat pengumpul data penelitian.
3.4.3 Tingkat Kesukaran Butir Tes (TK)
Tingkat kesukaran butir tes yang digunakan dalam penelitian ini dihitung dengan rumus:
TK = WH + WL
         NH +NL

Keterangan :
TK : Tingkat kesukaran butir tes
WH : Jumlah individu kelompok atas (27% dari atas) yang menjawab benar
WL : jumlah individu kelompok bawah (27% dari bawah) yang menajwab benar
NH : jumlah kelompok atas
NL : jumlah kelompok bawah
Langkah-langkah yag ditempuh untuk menghitung tigkat kesukaran butir tes yag digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
    Menyususn lembaran jawaban dari nilai yang tertinggi sampai yang terendah.
    Mengambil 27% lembar jawaban dari atas yang selanjutnya disebut kelompok atas dan 27% dari bawah yang selanjutnya disebut kelompok bawah.
    Membuat tabel untuk mengetahui jawaban benar atau salah dari setiap responden, baik pada kelompok esukaranatas maupun kelompok bawah.
Penentuan tingkat kesukaran butir tes ini dimaksudkan untuk mengetahui bobot suatu tes yang telah disusun. Menurut Nurkanca (1983: 140) tingkat kesukaran butir tes  dikatakan baik atau layak apabila bergerak antara 0,25 berarti butir tes tersebut terlalu mudah  layak). Demikian pula sebaliknya, butir tes yang mempunyai tingkat kesukaran di atas 0,75 berarti butir tes tersebut terlalu sulit (tidak layak).
Hasil analisis data menunjukkan  bahwa keseluruhan butir tes (20 butir) dinyatakan layak digunakan sebagai instrumen pengumpulan data karena berada pada kategori tingkat kesukaran antara 0,38 sampai dengan 0,63 dengan rincian sebagai berikut:
    1 butir tingkat kesukarannya 0,38
    4 butir tingkat kesukarannya 0,50
    8 butir tingkat kesukarannya 0,56
    7 butir tingkat kesukarannya 0,63
3.4.4 Daya Pembeda Butir Tes (DP)
Oller (dalam Nurkanca, 1983:135) berpendapat bahwa butir tes yang baik indeks pembedanya paling tidak harus mencapai 0,25. Indeks daya pembeda yang kurang dari 0,25 tidak layak dan karena itu perlu direvisi atau diganti. Dengan kata lain, indeks daya pembeda butir tes yang kurang dari 0,25 tidak dapt mebedakan antara siswa kelompok pandai dengan siswa kelompok tidak pandai (bodoh).
Tingkat kesukaran butir tes yang digunakan dalam penelitian ini dihitung dengan rumus:
 DP = WH - WL
         NH - NL
Keterangan :
DP : Tingkat kesukaran butir tes
WH : Jumlah individu kelompok atas (27% dari atas) yang menjawab benar
WL : jumlah individu kelompok bawah (27% dari bawah) yang menjawab benar
NH : jumlah kelompok atas
NL : jumlah kelompok bawah
Langkah-langkah yang digunakan untuk menghitung daya pembeda butir tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
    Menghitung  jawaban yang salah setiap butir tes pada siswa kelompok di atas.
    Menghitung jawaban yang salah setiap butir tes pada siswa kelompok bawah
    Mengurangkan jumlah jawaban yang salah pada siswa kelompok atas dengan siswa kelompok bawah
    Menghitung hasil pengurangan pada butir tiga kemudian dibagi dengan jumlah siswa kelompok atas atau kelompok bawah.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa dari 20 butir tes yang dijadikan sebagai instrumen pengumpulan data , semuanya layak digunakan karena mempunyai daya pembeda 0,25 sampai dengan 0,75 dengan rincian sebagai berikut:
    6 butir yang mempunyai daya pembeda 0,25
    8  butir yang mempunyai daya pembeda 0,38
    4 butir yang mempunyai daya pembeda 0,50
    1 butir yang mempunyai daya pembeda 0,63
    1 butir yang mempunyai daya pembeda 0,75
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data penelitian ini dilaksanakan dengan instrumen berupa tes kemampuan menggunakan preposisi bahasa indonesia, bentuk esai tertutup yang disusun dan diuji tingkat validitas dan rediabilitasnya. Tes dilaksanakan setelah siswa (responden) mendapat petunjuk atau arahan tentang cara menyelesaikan keseluruhan butir tes. Siswa (responden) menyelesaikan keseluruhan butir tes  pada lenbar jawaban yang disediakan selama 90 menit (2 x 45 menit).
Prosedur penggumpulan data dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
    Tes kemampuan menggunakan preposisi bahasa indonesia  (sebanyak 20 butir) beserta lembar jawaban dibagikan kepada responden.
    Responden di minta menjawab keseluruhan butir soal pada lembar jawaban yang disediakan dengan cara membuat kalimat dengan menggunakan preposisi yang tersedia.

3.6 Teknik Analisis Data
Keseluruhan data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Statistik yang dimaksud adalah berupa persentase. Persentase digunakan untuk menggetahui persentase penggunaan atau kebenaran jawaban siswa terhadap butir tes yang disediakan.
Skor kumulatif yang dicapai siswa kemudian ditafsirkam kedalam nilai yang ditetapakan berdasarkan Penelitian Acuan Patokan (PAP). Patokan penelitian yang digunakan mengacu pada ketepatan yang berlaku di sekolah tempat penelitian.
Rumus yang digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar individual adalah:
(jumlah jawaban yang benar)/(jumlah seluruh skor (20)) x 100% (Depdikbud 2002:35)
Selanjutnya, rumus yang digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar klasik responden adalah
(jumlah responden yang mencapai pemguasaan minimal 65%)/(jumlah seluruh responden) x 100%



DAFTAR PUSTAKA
Alwi, et.al. 1999. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta:                    Balai Pustaka.
Alwi, et.al. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.
Arikunto, Suharsini. 1998. Produser Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Badudu, J.S. 1985. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia.
Chaer, Abdul. 1987. Tata Bahasa Praktis.Jakarta: Bhatara.
Depbikbud. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia.. Jakarta: Balai Pustaka.
Efendi, Usman dan Aritonang.1993. Pelajaran Bahasa Indonesia dari Hal Kata Jadian(Cetakan Kedelapan). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Kridalaksana, Harimurti. 1986, Kelas kata Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Moeliono, Anto. 1976. Penyususunan Tata bahasa Stuktural. Jakarta: Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia.
Nurkancana, Wayan. 1983. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Ramlan, M. 1980. Kata Depan atau Preposisidalam Bahasa Indonesia.Yogyakarta: Karyono.
Samiyono, Sri Kustamtini. 1991.Pengantar Analisis Statistik (Edisi Keempat).Yogyakarta:Gadja Mada Uninersity Press.
Slametmuljana.1967. Kaidah Bahasa Indonesia (Jilid 2). Jakarta Djambatan
Wedhawati. 1990. Leksikal Verbal Indonesia yang Berkomponen Makna. Yogyakarta: UGM Press.
Wojowasito. 1967. Pengantar Sintaksis Indonesia. Bandung: Shinta Dharma.












DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................................
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
    Latar Belakang Masalah
    Latar Belakang
    Masalah
1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.2.1 Tujuan
1.2.2 Manfaat
1.3 Ruang Lingkup Penelitian
1.4 Batasan Istilah
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Preposisi
2.2 Jenis-jenis Preposisi
2.3 Ciri- ciri Preposisi
2.4 Preposisi Monomorfemis
2.5 Preposisi Polimorfemis
2.5.1 Preposisi Polimorfemis yang Berdampingan
2.5.2 Preposisi Polimorfemis yang Berkorelasi
2.6 Penggunaan Preposisi
2.6.1 Penggunaan Preposisi Monomorfemis
2.6.2 Penggunaan Preposisi Polimorfemis



BAB III METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
3.1 Jenis dan Metode Penelitian
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3 Instrumen Penelitian
3.3.1 Bentuk Tes
3.3.2 Butir-butir Tes
3.4 Ujicoba Tes
3.4.1 Validitas Tes
3.4.2 Reliabilitas Tes
3.4.3 Tingkat Kesukaran Butir Tes (TK)
3.4.4 daya Pembeda Butir Tes (DP)
3.5 Teknik Pengumpulan Data
3.6 Teknik Analisis Data